Ambillah yang Bermanfaat & Menyelamatkan

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Di antara tanda kebaikan seorang muslim adalah waktunya diisi hanya dengan hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya, dan ia meninggalkan hal yang sia-sia dan tiada manfaat, seperti diskusi tanpa disertai ilmu. Tidaklah berdiskusi kecuali apa yang didiskusikan adalah tentang ilmu, artinya diskusi yang ilmiyah. Diskusi ilmiyah adalah diskusi yang di dalamnya disampaikan ilmu.

“Lalu apakah yang dimaksud dengan ilmu?

Di dalam kitab “11 Renungan Sains dari Big Bang hingga Wihdatul Wujud”, Ustadz Ali Ahmad bin Umar حفظه الله, beliau menuturkan bahwa secara bahasa, ilmu dapat dimaknai sebagai lawan kata bodoh, sedangkan secara istilah, ilmu dimaknai dengan mengetahui sesuatu sampai hakikatnya. Yang dalam bahasa Arab disebut, shifatun yankasyifu biha al-mathlubu inkisyafan taman, yaitu suatu sifat yang menyingkap (rahasia) sebuah hal secara sempurna. ~ Lihat hlmn. 3-4.

Kemudian, pada bagian awal kitabnya beliau juga menuturkan tentang ilmu yang ditinjau dari segi kemanfaatan di dunia & keselamatan di akhirat, yang terbagi menjadi 3 yaitu; [1] ilmu yang bermanfaat & menyelamatkan, [2] ilmu yang bermanfaat namun tidak menyelamatkan, dan [3] ilmu yang tidak bermanfaat. ~ Lihat hlmn. 5.

“Apa saja yang dimaksud dari ketiga jenis ilmu tersebut?”

[1] Ilmu yang bermanfaat & menyelamatkan

Yang dikatakan ilmu yang bermanfaat & menyelamatkan adalah ilmu agama (/ilmu ad-Din), dan agama yang diridhai oleh Allāh وَعَزَّ جَلَّ hanyalah satu yaitu Islam. Ilmu agama adalah ilmu yang segala sesuatunya berdasarkan kepada Kitabullah dan as-Sunnah ash-Shahiihah. Sesungguhnya yang paling mengetahui agama ini adalah Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم, yang beliau  ‎صلى الله عليه وسلم ajarkan agama ini kepada para Shahabat رضي الله عنهم. Oleh sebab itu, wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari, memahami, dan mengamalkan ilmu ad-Din sebagaimana manhaj (metode & cara beragama) Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم  & para Shahabat رضي الله عنهم. Inilah aqidah kita yang tidak bisa ditawar dengan apapun karena ini merupakan jalan yang lurus, yang menyelamatkan kehidupan seorang muslim di dunia & di akhirat nanti. InsyaAllah…

[2] Ilmu yang bermanfaat namun tidak menyelamatkan

Yang dikatakan ilmu yang bermanfaat untuk dunia namun tidak menyelamatkan untuk akhirat adalah sains & ilmu pengetahuan. Dimana sains & ilmu pengetahuan berasal dari asumsi-asumsi, penelitian-penelitian, atau pengamatan-pengamatan yang dilakukan oleh manusia (/bani adam) dalam urusan dunia saja.

[3] Ilmu yang tidak bermanfaat

Jika telah dikatakan ilmu yang tidak bermanfaat maka sudah tentu tidak menyelamatkan seseorang baik untuk dunia apalagi untuk akhirat. “Lalu apa saja yang termasuk ilmu yang tidak bermanfaat?”. Yaitu ilmu sihir karena ilmu sihir dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan, kemudian ilmu filsafat, ilmu kalam atau sejenisnya.

Ada sebuah kisah hijrah (yang semoga Allāh عَزَّ وَجَلَّ meridhainya sebagai amal shalih) dari seorang sahabat, di mana sebelumnya beliau bekerja di salah satu Institusi ilmu kalam, kemudian hijrah dan memutuskan berhenti dari pekerjaannya, karena khawatir apabila termasuk ke dalam orang-orang yang berbuat maksiyat kepada Allāh عَزَّ وَجَلَّ, sebab terlibat dalam menyebarkan ilmu kalam & ilmu filsafat. Alhamdulillah ~ Segala Puji Bagi Allāh… Semoga beliau diberi keistiqamahan dalam Sunnah dan Iman. Aamiin…

Kembali kepada pembahasan di awal yaitu mengenai diskusi ilmiyah, dimana pada diskusi ilmiyah ini yang di dalamnya membahas tentang ilmu. Mendengar kata diskusi, mungkin dari konotasinya hanya melibatkan satu-dua orang saja. Tapi jika dikatakan majelis ilmu maka dalam bayangan kita, ada beberapa orang yang duduk yang membahas tentang ilmu. Tidak mungkin suatu diskusi dikatakan diskusi yang ilmiyah, kecuali dilakukan oleh orang-orang yang berilmu atau dilakukan oleh para tholabul ‘ilm (/orang yang menuntut ilmu). Yang dikatakan orang-orang berilmu di sini adalah orang-orang alim seperti ulama, ustadz, dan semisalnya, sedangkan kita yang masih belajar lebih tepat memposisikan diri sebagai tholabul ‘ilm. Maka diskusi ilmiyah ini dapat terjadi di antara orang-orang yang menuntut ilmu berdasarkan Kitabullah dan as-Sunnah ash-Shahiihah, dimana konsekuensinya adalah bertambahnya pengetahuan & keimanan mereka apabila diskusi ini  didasari dengan kelurusan aqidah, sebab apabila aqidahnya berbeda maka akan terjadi pertentangan hingga perdebatan. Dan perdebatan ini bisa saja terjadi antara yang berpegang teguh pada Sunnah dengan ahlul bid’ah, maka berdiskusilah dengan yang sama-sama berpegang teguh pada Sunnah. Sebab tidak ada yang lain selain Sunnah, sebagaimana al-Haq (/kebenaran) hanya 1, yaitu Kitabullah & as-Sunnah ash-Shahiihah. Sedangkan kesesatan jumlahnya banyak dan akan terus bertambah.

“Jika akhirnya terjadi perdebatan, bagaimana?”. Maka harus diteliti dulu aqidahnya, jika aqidahnya diketahui bertentangan dengan aqidah Salafush Shalih, selanjutnya meniliti asal-usulnya seperti pendidikannya dimana, teman-temannya siapa saja, termasuk orang yang dikenal atau yang tidak dikenal, jika tidak dikenal maka lebih baik ditinggalkan sebab manfaatnya sangat sedikit dan mudharatnya lebih banyak, diantara mudharatnya adalah terbuangnya waktu.

Ta’lif (تأليف; Penyusun): Vetty Ramadhianty

Maraaji’ :
[1] Ali Ahmad bin Umar. 1438 H (2016 M). “11 Renungan Sains dari Big Bang hingga Wihdatul Wujud”. Gresik : Pustaka Al Furqon.

Muraja’ah : Affan bin Umar/ Abu Shofi (Editor in Chief & Muallif ~ temanshalih.com)

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Beri kesempatan kepada orang lain untuk memperoleh informasi. FREE SHARE, dengan tetap mencantumkan sumber informasi sebagai amanah ilmiyah
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” ~ HR. Muslim no. 1893.

 

313 total views, 1 views today