Daurah Pra Ramadhan (Part 5) : “Keutamaan Membaca al-Qur’an, Qiyamul Lail & I’tikaf”

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Tidak ada ilmu yang bermanfaat dan menyelamatkan akhirat kecuali ilmu ad-Din (ilmu agama). Dengan ilmu agama, maka kita dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram, serta kita dapat mengetahui cara beribadah yang benar kepada Allāh عَزَّ وَجَلَّ, sesuai dengan yang telah Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم contohkan/ajarkan. Sehingga, menuntut ilmu (agama) adalah wajib atas setiap muslim. Dan balasan bagi seorang muslim yang menuntut ilmu (agama) adalah surga.

Sebagaimana sabda Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” ~ HR. Muslim no. 2699.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ibadah. Diantaranya adalah membaca al-Qur’an, Qiyamul Lail & I’tikaf, dan tiap ibadah memiliki keutamaan.

I. Keutamaan membaca al-Qur’an.

[1] Setiap hurufnya diganjar 10 kebaikan oleh Allāh عَزَّ وَجَلَّ.

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.~ HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’ no. 6469.

[2] Allāh عَزَّ وَجَلَّ menjadikan al-Qur’an sebagai syafa’at di hari kiamat, bagi yang membacanya.

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya~ HR. Muslim.

Para ulama telah membagi syafa’at menjadi dua bagian utama.

Pertama, syafa’at yang khusus untuk Nabi ‎صلى الله عليه وسلم  yaitu;

(i) Syafa’at terbesar (al ‘udzma atau al kubra). Syafa’at ini khusus dimiliki Nabi Muhammad ‎صلى الله عليه وسلم, dan tidak ada seorang pun, dari para rasul ulul ‘azmi yang menyamai beliau ‎صلى الله عليه وسلم. Syafa’at terbesar ini akan diberikan kepada hamba-hamba Allāh عَزَّ وَجَلَّ yang beriman kelak di padang Mahsyar.

(ii) Syafa’at kepada calon penghuni surga yang sudah berada di luar pintu surga hingga mereka masuk ke dalam surga.

(iii) Syafa’at beliau صلى الله عليه وسلم kepada pamannya (Abu Thalib) agar diringankan azabnya. Azab neraka yang akan diterima oleh Abu Thalib adalah, ia kelak akan menggunakan alas kaki dari api neraka yang akan membuat otaknya mendidih.

 

Kedua, syafa’at hamba-hamba Allāh عَزَّ وَجَلَّ yang beriman yaitu;

(i) Syafa’at hamba-hamba Allāh عَزَّ وَجَلَّ yang beriman kepada para calon penghuni neraka agar tidak jadi masuk ke dalam api neraka.

(ii) Syafa’at hamba-hamba Allāh عَزَّ وَجَلَّ yang beriman kepada para penghuni neraka agar dikeluarkan dari neraka.

(iii) Syafa’at hamba-hamba Allāh عَزَّ وَجَلَّ yang beriman kepada sesama orang-orang yang beriman untuk mengangkat derajat-derajat mereka di surga kelak.

 

Terkait keutamaan membaca al-Qur’an, maka hal-hal yang dapat membantu seorang muslim agar mudah untuk mentadaburinya, yaitu;

[1] Niat ikhlas karena  Allāh عَزَّ وَجَلَّ

Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda,

 اِقْرَؤُوْا فَكُلٌّ حَسَنٌ, وَسَيَجِيءُ أَقْوَامٌ يُقِيمُونَهُ كَمَا تُقَامُ القِدْحُ يَتَعَجَّلُونَهُ وَلاَ يَتَأَجَّلُونَهُ.

“Bacalah Al Qur`an. Bacaan kalian semuanya bagus. Akan datang nanti beberapa kaum yang menegakkan Al Qur`an seperti menegakkan anak panah. Mereka hanya mengejar materi dunia dengannya dan tidak mengharapkan pahala akhirat”. ~ Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (830) dan Ahmad (III/357dan 397) dari jalur Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud, III/418 no. 783][2].

[2] Mengagungkan Allāh عَزَّ وَجَلَّ dan mencintaiNYA.

[3] Berkonsentrasi dengan hati yang khusyu’ serta memasang pendengaran ketika al-Qur’an dibacakan.

[4] Taubat. Sebagaimana ibadah yang tidak akan diterima jika syaratnya tidak terpenuhi, maka sama halnya dengan taubat yang juga memiliki syarat agar taubat dapat diterima, yaitu :

(i) Ikhlas, yang taubatnya ia niatkan hanya untuk mendapatkan ampunan dari Allāh عَزَّ وَجَلَّ, tiada yang lain.

(ii) Menyesali dosa-dosa yang dilakukan. Masa lalu harus ditutupi, kecuali mereka yang melakukan dosa secara terang-terangan.

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” ~ HR. Bukhari no. 6069 dalam kitab Fathul Bari dan lafadz ini milik Bukhari, dan riwayat Muslim no. 2990.

(iii) Bertekad untuk tidak mengulangi kembali dosa-dosa yang telah dilakukan.

(iv) Melepaskan dosa yang dilakukan, misalnya bertaubat dari minum khamr maka ia harus meninggalkan khamr. Jika berkaitan dengan orang lain, maka harus meminta maaf, dan jika berkaitan dengan barang, maka harus dikembalikan atau ditinggalkan.

(vi) Bertaubat pada masa diterimanya waktu taubat. Jika perorangan maka batas taubatnya sebelum nafas berada dikerongkongan (sakaratul maut), sedangkan umum untuk seluruh manusia maka batas taubatnya hingga matahari terbit dari barat (hari kiamat).

[5] Berusaha membersihkan hati. Ibarat sedang bercermin, semakin kotor hati seseorang maka akan semakin sulit mentadaburinya.

 

II. Keutamaan Qiyamul Lail (/shalat malam)

[1] Sebab adanya perhatian besar dari Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم terhadap shalat malam.

Sebagaimana apa yang dilakukan Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم,

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم biasa shalat malam hingga kakinya bengkak. ‘Aisyah pun lalu bertanya, mengapa engkau melakukan ini wahai Rasulullah? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang? Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: ‘Bukankah aku akan bahagia jika menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?’ ~ HR. Bukhari no. 4837 dan Muslim no. 2820.

[2] Shalat malam merupakan salah satu sebab agung agar seseorang masuk surga.

[3] Shalat malam merupakan salah satu sebab diangkatnya derajat seseorang di surga.

[4] Yang senantiasa menjaga shalat malam adalah termasuk orang yang mukhsin (/yang berbuat ihsan). Sebagaimana dalam hadits Jibril bahwa tingkatan islam ada 3, yaitu; (i) Islam, (ii) Iman, (iii) ihsan, dan ihsan adalah tingkatan yang paling tinggi.

[5] Allāh عَزَّ وَجَلَّ memuji orang-orang yang shalat malam sebagai hamba-hambaNYA. Sebab Allāh عَزَّ وَجَلَّ menciptakan manusia adalah untuk beribadah kepadaNYA.

[6] Allāh عَزَّ وَجَلَّ bersaksi bahwa orang yang menjaga shalat malam termasuk orang yang memiliki keimanan yang sempurna.

[7] Allāh عَزَّ وَجَلَّ membedakan orang-orang yang shalat malam dengan selain mereka yang tidak memiliki sifat seperti mereka.

[8] Shalat malam menjadi penghapus kesalahan & pencegah perbuatan dosa.

[9] Shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.

[10] Merupakan tanda kemulian seorang mukmin.

[11] Dibolehkan memiliki keinginan kuat untuk menyamai kebaikan orang lain terhadap orang yang melakukan shalat malam.

[12] Membaca al-Qur’an dalam shalat malam merupakan keberuntungan yang besar.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الغَافِلِيْنَ وَ مَنْ قَامَ بِمِائَة آيَةٍ كُتِبَ مِنَ القَانِتِيْنَ وَ مَنْ قَرَأَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ المقَنْطِرِيْنَ

Barangsiapa yang shalat malam dengan 10 ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang-orang yang lalai. Barangsiapa yang shalat malam dengan membaca 100 ayat, maka ia dicatat sebagai orang-orang yang taat. Barangsiapa yang shalat malam dengan 1000 ayat, maka ia dicatat sebagai orang-orang yang diberi pahala yang melimpah.~ HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 662. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 642.

 

III. I’tikaf

Dalam buku saku “Ramadhan Bersama Nabi”, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menuliskan makna i’tikaf yang secara bahasa berarti menetap pada sesuatu. Adapun secara syar’i, i’tikaf berarti menetap di masjid untuk beribadah kepada Allah, yang dilakukan oleh orang yang khusus, dengan tata cara yang khusus. ~ Lihat hlmn. 65.

Sedangkan orang yang melakukan i’tikaf disebut mu’takif. Adapun i’tikaf hukumnya sunnah, maka tidak boleh meninggalkan kewajiban keluarga untuk i’tikaf, sebelum kewajibannya tersebut terpenuhi.

Dari Ibnu ‘Umar Radhiy-Allahu-‘Anhhu, Rasulullāh صلى الله عليه وسلم bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.~ HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176.

Sebagaimana kaidah fikih yang masyhur, “Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan”, maka wajib lebih diutamakan daripada sunnah.

Seorang wanita boleh melakukan i’tikaf, selama terpenuhinya 2 syarat, yaitu; (i) Meminta izin suami, dan (ii) Terhindar dari fitnah, dan tidak berikhtilat.

Ta’lif (تأليف; Penyusun): Vetty Ramadhianty

Maraaji’ :
Muhammad Abduh Tuasikal. 1438 H (2017 M). Ramadhan Bersama Nabi صلى الله عليه وسلم . Yogyakarta: Rumaysho.

~ Ikhtisar Daurah Pra Ramadhan oleh : Ustadz Abu Abdillah Hamdi حفظه الله.
Jum’at, 23 Sya’ban 1438 H (19 Mei 2017 M) di Masjid al-Furqan Pontianak.

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Beri kesempatan kepada orang lain untuk memperoleh informasi. FREE SHARE, dengan tetap mencantumkan sumber informasi sebagai amanah ilmiyah
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” ~ HR. Muslim no. 1893.

217 total views, 1 views today