Tarbiyatul Aulad (Pendidikan terhadap Anak) : “Kewajiban Mendidik Anak”

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Tidaklah seseorang dikatakan benar-benar berpendidikan kecuali mereka yang dididik sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم. Maka wajib bagi orangtua terutama sang Ayah untuk mendidik anak-anak mereka dengan pendidikan Agama yang mulia ini yaitu Islam, secara kaffah. Pendidikan tersebut bisa diajarkan langsung kepada anak-anaknya apabila orangtua mengetahui banyak tentang agama yang mulia ini, atau boleh diserahkan kepada ahlinya. Namun, dengan syarat pendidikan tersebut wajib berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bukan berdasarkan adat-adat dan segala sesuatu yang disandarkan kepada Islam padahal bukan dari Islam.

Kewajiban untuk mendidik anak dengan pendidikan agama Islam, akan berlangsung sepanjang hayat seorang Ayah. Dan tidak pernah berhenti kecuali nafasnya telah berhenti. Hal ini disebabkan karena manusia sangat berhajat kepada ilmu agama (Islam) melebihi hajatnya kepada makanan & minuman. Rata-rata manusia makan dalam sehari hanya dua sampai tiga kali, akan tetapi kebutuhannya terhadap ilmu adalah sebanyak bilangan nafas.

Sebagaimana Allāh وَعَزَّ جَلَّ telah memerintahkan kepada setiap Ayah dan suami yang beriman dengan firman-NYA,

…يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan ahlimu (istri dan anak-anakmu) dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu…” ~ QS. At-Tahrim: 6.

Ayat yang mulia ini menjadi dasar pendidikan di dalam keluarga orang-orang beriman. Wajib hukumnya bagi setiap ayah dan suami untuk memelihara dan menjaga istri-istri dan anak-anak mereka dari api neraka. Namun, terjaganya hal di atas tidak mungkin tercapai oleh seorang ayah atau suami kecuali dengan ilmu, pengalaman, dakwah dan kesabaran dalam menjalaninya.

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم juga bersabda tentang kewajiban seorang Ayah atau suami yang merupakan pemimpin di dalam rumah tangganya,

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“…dan suami itu pemimpin di dalam ahlinya (anak dan istrinya) dan dia nanti (pada hari kiamat) akan ditanya tentang kepemimpinannya tersebut.” ~ HR. al-Bukhari dan Muslim.

Ta’lif (تأليف; Penyusun): Vetty Ramadhianty

Maraaji’ :
Abdul Hakim bin Amir Abdat. 1436 H (2015 M). “Menanti Buah Hati & Hadiah untuk yang Dinanti”. Jakarta : Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Hlmn. 320-324.

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Beri kesempatan kepada orang lain untuk memperoleh informasi. FREE SHARE, dengan tetap mencantumkan sumber informasi sebagai amanah ilmiyah
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” ~ HR. Muslim no. 1893.

318 total views, 2 views today