Turunnya Fitnah Seperti Tetesan Air Hujan (Part 2)

Bab ke-3 : “Turunnya Fitnah seperti Tetesan Air Hujan” dari Kitab Al-Fitan wa Asyraatis Sa’ah (كتاب الفتن وأشراط الساعة) dalam Shahih Muslim (صحيح مسلم)

Hadits ke 2 :

Dari Abu Hurairah Radhiy-Allahu-‘Anhu, Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ ، وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِى ، مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ ، فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِه

“Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari, barangsiapa yang mencari fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung.” ~ HR. Muslim no.2886.

Syarah/ Penjelasan :

[1] Akan terjadi fitnah, yaitu fitnah yang sangat besar.

[2] Yang dimaksud dengan orang yang duduk adalah mereka yang tidak bergerak dari tempat duduknya artinya tidak mendekati fitnah, mengetahui bahwa ada fitnah namun tidak mau melihatnya sama sekali.

[3] Yang dimaksud dengan orang yang berdiri adalah mereka yang berdiri dari tempat duduknya dan melihat fitnah tersebut. Mereka yang di dalam hatinya terdapat fitnah namun enggan mengucapkannya.

Faedah :
– “Fitnah layaknya perempuan yang cantik, maka akan banyak orang yang tergoda untuk melihat, kemudian ingin melihatnya kembali, padahal ia buruk rupa”
– “Orang yang mengetahui ilmu tentang fitnah maka ia akan tahu dampak dari fitnah tersebut”
– “Berhati-hatilah kepada para akhawat yang memajang fotonya di sosial media”
– “Orang yang sudah melihat fitnah biasanya ia akan tergerak untuk mendekatinya”

[4] Yang dimaksud dengan orang yang berjalan adalah mereka yang pergi dengan kedua kakinya menuju fitnah (dengan beberapa sebab), lalu fitnah tersebut membawa ia jatuh didalamnya. Para ulama juga menyebutkan bahwa orang seperti ini terjatuh dalam fitnah bukan hanya karena ada sebab tapi ia sendiri yang melemparkan dirinya ke dalam fitnah tersebut.

Faedah : “Salah satu cara syaitan adalah mencari pembenaran dengan dalil padahal kebathilan telah jelas”

[5] Yang dimaksud dengan orang yang berlari-lari kecil adalah mereka yang terburu-buru menuju fitnah (dengan jalan kaki/kendaraan) bahkan ia masuk di dalamnya.

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم menyebutkan beberapa kondisi orang dalam menyikapi fitnah agar mereka bisa memilih kondisi terbaik.

Faedah :
– “Bahwa fitnah jangan didatangi apalagi diundang”.
– “Mereka yang diselamatkan dari fitnah maka jangan ambil/dekati fitnah tersebut, demikian fitnah-fitnah yang terjadi di negeri ini”.

 Allāh وَعَزَّ جَلَّ berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” ~ QS. al-Maidah : 3.

Maka, setelah Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم wafat, sempurnalah Agama Islam. Segala tuntunan dalam beribadah telah disampaikan, tidak membuat perkara baru walaupun dengan tujuan beribadah.

Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم bersabda,

وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“…Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” ~ HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i.

Syarah/ Penjelasan :

[1] Beriltizam (/komitmen dalam agama) bersama Ahlus-Sunnah Wal Jama’ah, menjauhkan diri dari fitnah.
Faedah : “Jika terjadi fitnah, maka tegaklah kepada Sunnah Rasulullāh ‎صلى الله عليه وسلم dan Khulafaur Rasyidin.

[2] Menjauhi ahlul bid’ah, sebab ini (menjauhinya) merupakan suatu keselamatan.

[3] Cara mempelajari agama adalah mempelajari lawannya. Belajar tauhid maka ketahuilah tentang syirik, belajar Sunnah maka ketahuilah tentang bid’ah.

[4] Jika muncul fitnah pada kelompok maka tinggalkanlah mereka.

[table “1” not found /]

 

Ta’lif (تأليف; Penyusun): Vetty Ramadhianty

Ikhtisar Kajian Islam Rutin oleh : Ustadz Noviyardi Amarullah Tarmizi حفظه الله.
Sabtu, 13 Mei 2017, Masjid al-Jama’ah Pontianak.

251 total views, 2 views today